Kamis, 28 Maret 2013



Aku, Dia dan Buku
            Hai sobat, bagaimana keadaanmu kini ? semoga lebih baik dari pada sebelumnya. Maaf aku tidak biisa menjengukmu, karena ada urusan yang belumku lakukan yaitu sekolah, karena hari libur sekolah belum tiba. Semoga kamu sembuh sobat, luka yang tidak sengaja dibuat bekas kecelakaan itu semoga tidak membuatmu putus asa dan terus belajar. Engkau pasti kuat. Biarlah lukamu sembuh seperti sedia kala. Oh ya, bersama surat ini aku titipkan buku-buku bacaan yang kamu sukai dan tulisan kita waktu dulu yang telah ku perbaiki untuk menemanimu. Aku tahu, aktivitas sepertimu tidak akan betah berlama-lama di rumah sakit.           
Kenapa harus buku ?
Mungkin kamu ingat kalau aku katakan buku adalah teman kita yang merupakan jembatan pertemanan kita. Kamu tahu tidak dengan buku aku banyak belajar, banyak pengetahuan, tahu tentang dunia. Dengan buku pula aku mendapatkan inspirasi, membuatku semangat  dan ketagihan lagi dan lagi yang ingin ku lakukan hanyalah membaca buku karena buku seperti nikotin yang membuatku menjadi pecandu. Maka wajar kalau aku bilang buku menjadi motivatorku setelah keluarga dan teman-teman, karena buku merupakan teman ketiga. Ingin kuceritakan padamu bagaimana sebuah bacaan telah membangun mimpi-mimpiku dan pengalamanku.

            Sebelum aku menginjakan kaki di sekolah SMA ini aku belum punya teman satupun. Mungkin faktor yang menyebabkan aku tidak mempunyai teman yaitu  karena rupaku jelek, ekonomi rendah, kuper, macam-macam lah, ejekan cacihan sudah biasa menghampiriku karena itu aku selalu sendirian. Hari-hariku penuh kebosenan di sekolah sebelum aku bertemu denganmu sobat. Apalagi pada saat istirahat tiba saat dimana anak-anak bermain bersama, bercanda ria, kekantin bareng dan lain-lain. Tapi aku selalu sendirianm, mungkin kalau di ukur tingkat kebosenanku sudah level 9 dari 10 level.
Hufftt, , , , sampai-sampai aku sempat berpikir lelah juga jadi diriku, tapi ku buang semua pikiran negative yang ada dalam benakku aku bilang itu semua di ibaratkan pulau yang dimana aku harus mencari pulau lagi di sebrang(teman) karena itu aku harus berusaha hard work aku harus menemukan sebuah jembatan, yang dimana jembatan itu merupakan penghantar dari pulau satu ke pulau sebrang. Hingga pada waktu itu aku putuskan pergin ke perpustakaan padahal aku tidak terlalu suka membaca, karena membaca itu pekerjaan yang membosankan, mungkin itu juga yang menyebabkan aku di jauhi teman-teman.




            Lumayan perpustakaan di sekolahku cukup besar dan buku-bukunya cukp banyak dan menarik meskipun aju tidak terlalu suka membaca tapi harus ku paksakan. Hingga akhirnya aku anggap buku adalah teman karena buku mengerti aku  meskipun buku tidak bisa menyapaku tapi buku mengerti perasaanku hinggaku terus membaca, membaca dan membaca. Waktu di sekolah saat istirahat ku pergunakan waktuku untuk membaca. Membaca bukan hanya saat istirahat saja dan di sekolah, di luar sekolahpun ku terus melakukan hal ini, yaitu pada saat malam hari sebelum tidur supaya aku tidak sendirian.

Buku yang kubaca segala hal entah itu buku pengetahuan, pelajaran filsafat, ensiklopedia dan lain-lain, apapun itu pasti akan kubaca, karena membaca membantu menghilangkan rasa kesepianku sehingga membaca buku sekarang menjadi kegemaranku. Waktu terus berjalan jarum jampun terus berputar hingga aku bertemu denganmu sobat Revan namanya. Orangnya baik, ramah, tidak sombong, mau berteman dengan siapa saja dan yang ku suka dari sifat Revan dia itu tidak melihat orang dengan sebelah mata. Saat pertama kali dia menginjakan kaki di sekolah Revan pergi ke perpustakaan, dengan waktu yang pas yaitu pada waktu istirahat dimana hal yang rutin ku lakukan setiap istirahat yaitu membaca buku.

Kami bertemu di perpustakaan, hal yang sama dari kami yaitu gemar membaca buku, apalagi revan menyukai buku yang aku suka yaitu buku sigma dan buku horizon. Sigma berisi tentang pengetahuan umum sedangkan horizon buku yang berisi majalah sastra isinya mengupas seputar sastra dan menampilkan lebih banyak puisi ketimbang cerpen. Perkenalanpun berlangsung hingga bel berbunyi yang menandakan istirahat selelsai dan memulai pelajaran lagi.

            Aku masuk ke kelas dan beberapa saat kemudian ada guru masuk sambil membawa murid, dan muridnya yaitu Revan kenalan waktu di perpustakaan. Dia memperkenalkan diri di depan kelas, tepatnya seperti ini
“hello teman-teman namaku revan”
“aku pindahan dari Jakarta,  aku tinggal bersama nenek saya yang bernama nenek imah”
“semoga teman-teman mau berteman dengan saya”.


Setelah itu guru mempersilahkan revan duduk dimana saja, beruntungnya aku revan memilih duduk bersamaku sudah lama aku nantikan teman yang mau duduk bersamaku dan menemaniku saat belajar di kelas. Di dalam kelas sambil megeluarkan senyum revan menyapaku “ hai kamu Ahmad kan yang tadi berada di perpustakan, boleh aku duduk di sebelahmu ?” Aku menjawab sambil tersenyum “ dengan senang hati revan, silahkan ”. Akupun di kelas meneruskan obrolan yang tertunda tadi yang terpotong oleh bel istirahat, saling sapapun terjadi percisnya seperti dialog ini :
Revan              : Hai Ahmad rumahmu dimana ?
Ahmad                        : rumahku di sodong, kalau kamu ?
Revan              : aku juga di sodong, dekat pom itu.
Ahmad            : Ohh ,,,, Kamu tinggal bersama nenek Imahkan, aku tahu itu
                          Rumah kita hanya terpisahkan oleh tiga rumah saja, berarti kita tetanggan dong.
Revan              : Ia benar, berarti kita bisa bermain bersama nih ( sambil ketawa bahagia).
Ahmad            : benar itu revan.

Setelah percakapan itu kami tambah akrab apalagi hadirnya buku sebagai jemabatan bagi kami. 



Alhamdulillah temanku bertambah dan sekarang aku mempunyai dua teman yaitu Revan dan Buku, sekarang perasaan ku bahagia dan ku tulis kebahagian ini di buku diaryku. Saya harap kedepannya kami bisa bermain bersama dan bisa menggapai mimpi-mimpi kami. Kamipun bermain dan belajar bersama ku habiskan waktuku bersamamu kawan, karena hobi kita yaitu membaca maka setiap istirahat di sekolah kami luangkan waktu untuk pergi ke perpustakaan menyapa teman kami yaitu Buku. Kamipun mempunya selogan, selogannya yaitu “ Dengan membaca engkau dapat mengenal dunia, Dengan menulis engkau dapat di kenal dunia, karena buku penghubung seperti jembatan pertemanan kita “. Selogan itu merupakan ikrar kita, jika suatu hari kami terpisah karena suatu alasan maka hanya selogan itu yang dapat mengingatkan kita.

Maka dengan selogan itu hobi Aku dan Revan bertambah yaitu Menulis, dengan pengalaman telah dimiliki kami, kami tuliskan di sebuah buku. Pertemanan bukan hanya berlangsung di sekolah saja tetapi di luar sekolahpun kami terus berhubungan. Dengan hobi yang sama kami pergi ke toko buku untuk membeli buku sigma edisi terbaru dan pergi ke perpustakaan di kota. Senangnya rasanya, kesendirianku akhirnya hilang juga makasih ya Allah kau telah memberikanku sahabat terbaik dalam hidupku, mungkin ini di balik kesusahan ada hikmah di dalamnya, hikmahnya yaitu kau sobat.

Tapi hal yang burukpun tejadi akhirnya yang tidak di sangka-sangka datang juga, kelas satu semester dua revan pergi kembali ke jakarta dan pindah sekolah. Itu membuatku sakit, teman yang begitu dekat denganku pergi meninggalkanku dengan menitipkan sebuah buku dan tulisan yang waktu itu kami buat. Mungkin hanya dengan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku, yaitu Mengapa kau tersenyum? apakah kau bahagia? lalu mengapa kau menangis? apakah kau sedih? pertanyaan itulah yang selalu ada dalam benakku jika sahabatku terdiam dan hanya memberikan senyum simpul dibibirnya atau bahkan hanya tertunduk karena bersedih.






Hal itu yang membuat aku sangat gelisah sekaligus ketakutan karena tak ada teman yang ingin berteman dengan ku kecuali revan. Pupus sudah harapan ku yang pernah dahulu yang ingin selalu bersama-sama selamanya dengan sahabatku. Hari-hari yang pernah aku lewati bersama revan merupakan hari yang paling terindah dalam hidup ku. Dalam kesedihan ku, karena aku di tinggal sahabatku, teman-teman ku yang tadinya memusuhi ku sekarang menjadi teman ku. Mereka menyadari bahwa tidak seharusnya mereka memusuhi ku. Aku sangat senang karena tak ada lagi teman yang memusuhi ku, dan aku sangat senang karena impianku ingin mempunyai teman yang banyak telah tercapai. Merekapun selalu membuat aku bahagia.akupun tak akn pernah melupakan hal yang terindah dalam hidupku bisa berteman dengan sahabat yang terbaik seperti revan.

Sekarang aku seperti orang yang paling bahagia, dan akupun mulai menata hidupku yang pernah rapuh karena kehilangan seorang sahabat. Aku cinta membaca buku. Karena darinya, aku bisa banyak belajar. Aku bisa memetik pengalaman. Aku bisa mencontoh. Aku pun bisa menonton lewat membaca buku. Melalui buku, aku bisa berimajinasi, karena segala yang kubaca begitu nyata. Engkau sendiri juga membuktikannya, kan? Dengan membaca, engkau tidak perlu belajar. Engkau selalu suka membaca buku-buku “berat” tentang filsafat. Cukup dengan membaca, engkau bisa melampaui siapa saja. Einstein pun belajar dari membaca buku. Bukankah agama kita sangat menganjurkan untuk membaca? Iqra’ (Bacalah!) Karena, pada dasarnya, kunci segala pengetahuan adalah dengan membaca.

Membaca sebuah buku selalu memberikan cara berpikir baru bagiku, juga bagimu. Segala hal tentang kehidupan bisa dipelajari melalui buku. Maka dari itu, jangan pernah berhenti membaca, sobat. Aku sering memetik pelajaran dari setiap buku yang kubaca. Setiap kisah yang diceritakan mampu memotivasiku untuk terus membaca. Dan setiap kisah yang dituliskan memberiku inspirasi untuk berbuat lebih baik. Mungkin, inilah yang disebut ‘tulisan bernyawa’. Tulisan yang mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk meraih mimpi-mimpinya. Sobat, aku berharap suatu hari aku pun bisa menghasilkan karya serupa.
Olehnya itu, aku kemudian tidak takut untuk bermimpi. Segala kisah yang kubaca telah mengajarkan hal itu. Banyaklah belajar dari membaca.Akhirnya, ingin kuperkenalkan pada engkau wahai sahabatku. Buku-buku itu telah menjadi inspirator sekaligus motivator dalam kehidupanku. Jadilah temannya. Lalu, temukan pula inspirasimu dengan membaca. Maka engkau akan tahu siapa motivatormu. Dengan surat dan buku yang kutuliskan bersamamu ku tulis lagi, didalam tulisan itu berisi sebuah pengalaman kita sobat dengan buku. Hanya ini yang dapat ku berikan semoga kau senang sobat membacanya. Aku yakin kita dapat di kenal oleh duia karena tulisan kita. Ahmad.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar