Aku,
Dia dan Buku
Hai sobat, bagaimana keadaanmu kini ? semoga lebih baik
dari pada sebelumnya. Maaf aku tidak biisa menjengukmu, karena ada urusan yang
belumku lakukan yaitu sekolah, karena hari libur sekolah belum tiba. Semoga
kamu sembuh sobat, luka yang tidak sengaja dibuat bekas kecelakaan itu semoga
tidak membuatmu putus asa dan terus belajar. Engkau pasti kuat. Biarlah lukamu
sembuh seperti sedia kala. Oh ya, bersama surat ini aku titipkan buku-buku
bacaan yang kamu sukai dan tulisan kita waktu dulu yang telah ku perbaiki untuk
menemanimu. Aku tahu, aktivitas sepertimu tidak akan betah berlama-lama di
rumah sakit.
Kenapa harus buku ?
Mungkin kamu ingat
kalau aku katakan buku adalah teman kita yang merupakan jembatan pertemanan
kita. Kamu tahu tidak dengan buku aku banyak belajar, banyak pengetahuan, tahu
tentang dunia. Dengan buku pula aku mendapatkan inspirasi, membuatku semangat dan ketagihan lagi dan lagi yang ingin ku
lakukan hanyalah membaca buku karena buku seperti nikotin yang membuatku menjadi
pecandu. Maka wajar kalau aku bilang buku menjadi motivatorku setelah keluarga
dan teman-teman, karena buku merupakan teman ketiga. Ingin kuceritakan padamu
bagaimana sebuah bacaan telah membangun mimpi-mimpiku dan pengalamanku.
Sebelum aku menginjakan kaki di sekolah SMA ini aku belum
punya teman satupun. Mungkin faktor yang menyebabkan aku tidak mempunyai teman
yaitu karena rupaku jelek, ekonomi rendah,
kuper, macam-macam lah, ejekan cacihan sudah biasa menghampiriku karena itu aku
selalu sendirian. Hari-hariku penuh kebosenan di sekolah sebelum aku bertemu
denganmu sobat. Apalagi pada saat istirahat tiba saat dimana anak-anak bermain
bersama, bercanda ria, kekantin bareng dan lain-lain. Tapi aku selalu
sendirianm, mungkin kalau di ukur tingkat kebosenanku sudah level 9 dari 10
level.
Hufftt,
, , , sampai-sampai aku sempat berpikir lelah juga jadi diriku, tapi ku buang
semua pikiran negative yang ada dalam benakku aku bilang itu semua di ibaratkan
pulau yang dimana aku harus mencari pulau lagi di sebrang(teman) karena itu aku
harus berusaha hard work aku harus menemukan sebuah jembatan, yang dimana
jembatan itu merupakan penghantar dari pulau satu ke pulau sebrang. Hingga pada
waktu itu aku putuskan pergin ke perpustakaan padahal aku tidak terlalu suka
membaca, karena membaca itu pekerjaan yang membosankan, mungkin itu juga yang
menyebabkan aku di jauhi teman-teman.
Lumayan perpustakaan di sekolahku cukup besar dan
buku-bukunya cukp banyak dan menarik meskipun aju tidak terlalu suka membaca tapi
harus ku paksakan. Hingga akhirnya aku anggap buku adalah teman karena buku
mengerti aku meskipun buku tidak bisa
menyapaku tapi buku mengerti perasaanku hinggaku terus membaca, membaca dan
membaca. Waktu di sekolah saat istirahat ku pergunakan waktuku untuk membaca. Membaca
bukan hanya saat istirahat saja dan di sekolah, di luar sekolahpun ku terus
melakukan hal ini, yaitu pada saat malam hari sebelum tidur supaya aku tidak
sendirian.
Buku yang kubaca segala
hal entah itu buku pengetahuan, pelajaran filsafat, ensiklopedia dan lain-lain,
apapun itu pasti akan kubaca, karena membaca membantu menghilangkan rasa
kesepianku sehingga membaca buku sekarang menjadi kegemaranku. Waktu terus
berjalan jarum jampun terus berputar hingga aku bertemu denganmu sobat Revan
namanya. Orangnya baik, ramah, tidak sombong, mau berteman dengan siapa saja
dan yang ku suka dari sifat Revan dia itu tidak melihat orang dengan sebelah
mata. Saat pertama kali dia menginjakan kaki di sekolah Revan pergi ke
perpustakaan, dengan waktu yang pas yaitu pada waktu istirahat dimana hal yang
rutin ku lakukan setiap istirahat yaitu membaca buku.
Kami bertemu di
perpustakaan, hal yang sama dari kami yaitu gemar membaca buku, apalagi revan
menyukai buku yang aku suka yaitu buku sigma dan buku horizon. Sigma berisi
tentang pengetahuan umum sedangkan horizon buku yang berisi majalah sastra
isinya mengupas seputar sastra dan menampilkan lebih banyak puisi ketimbang
cerpen. Perkenalanpun berlangsung hingga bel berbunyi yang menandakan istirahat
selelsai dan memulai pelajaran lagi.
Aku masuk ke kelas dan beberapa saat kemudian ada guru
masuk sambil membawa murid, dan muridnya yaitu Revan kenalan waktu di
perpustakaan. Dia memperkenalkan diri di depan kelas, tepatnya seperti ini
“hello teman-teman
namaku revan”
“aku pindahan dari
Jakarta, aku tinggal bersama nenek saya
yang bernama nenek imah”
“semoga teman-teman mau
berteman dengan saya”.
Setelah
itu guru mempersilahkan revan duduk dimana saja, beruntungnya aku revan memilih
duduk bersamaku sudah lama aku nantikan teman yang mau duduk bersamaku dan
menemaniku saat belajar di kelas. Di dalam kelas sambil megeluarkan senyum
revan menyapaku “ hai kamu Ahmad kan yang tadi berada di perpustakan, boleh aku
duduk di sebelahmu ?” Aku menjawab sambil tersenyum “ dengan senang hati revan,
silahkan ”. Akupun di kelas meneruskan obrolan yang tertunda tadi yang
terpotong oleh bel istirahat, saling sapapun terjadi percisnya seperti dialog
ini :
Revan : Hai Ahmad rumahmu dimana ?
Ahmad : rumahku di sodong,
kalau kamu ?
Revan : aku juga di sodong, dekat pom
itu.
Ahmad :
Ohh ,,,, Kamu tinggal bersama nenek Imahkan, aku tahu itu
Rumah
kita hanya terpisahkan oleh tiga rumah saja, berarti kita tetanggan dong.
Revan : Ia benar, berarti kita bisa
bermain bersama nih ( sambil ketawa bahagia).
Ahmad :
benar itu revan.
Setelah percakapan itu
kami tambah akrab apalagi hadirnya buku sebagai jemabatan bagi kami.
Alhamdulillah
temanku bertambah dan sekarang aku mempunyai dua teman yaitu Revan dan Buku,
sekarang perasaan ku bahagia dan ku tulis kebahagian ini di buku diaryku. Saya
harap kedepannya kami bisa bermain bersama dan bisa menggapai mimpi-mimpi kami.
Kamipun bermain dan belajar bersama ku habiskan waktuku bersamamu kawan, karena
hobi kita yaitu membaca maka setiap istirahat di sekolah kami luangkan waktu
untuk pergi ke perpustakaan menyapa teman kami yaitu Buku. Kamipun mempunya
selogan, selogannya yaitu “ Dengan membaca engkau dapat mengenal dunia, Dengan
menulis engkau dapat di kenal dunia, karena buku penghubung seperti jembatan
pertemanan kita “. Selogan itu merupakan ikrar kita, jika suatu hari kami
terpisah karena suatu alasan maka hanya selogan itu yang dapat mengingatkan
kita.
Maka
dengan selogan itu hobi Aku dan Revan bertambah yaitu Menulis, dengan
pengalaman telah dimiliki kami, kami tuliskan di sebuah buku. Pertemanan bukan
hanya berlangsung di sekolah saja tetapi di luar sekolahpun kami terus
berhubungan. Dengan hobi yang sama kami pergi ke toko buku untuk membeli buku
sigma edisi terbaru dan pergi ke perpustakaan di kota. Senangnya rasanya,
kesendirianku akhirnya hilang juga makasih ya Allah kau telah memberikanku
sahabat terbaik dalam hidupku, mungkin ini di balik kesusahan ada hikmah di dalamnya,
hikmahnya yaitu kau sobat.
Tapi
hal yang burukpun tejadi akhirnya yang tidak di sangka-sangka datang juga,
kelas satu semester dua revan pergi kembali ke jakarta dan pindah sekolah. Itu
membuatku sakit, teman yang begitu dekat denganku pergi meninggalkanku dengan
menitipkan sebuah buku dan tulisan yang waktu itu kami buat. Mungkin hanya
dengan kata-kata yang dapat menggambarkan perasaanku, yaitu Mengapa kau
tersenyum? apakah kau bahagia? lalu mengapa kau menangis? apakah kau sedih?
pertanyaan itulah yang selalu ada dalam benakku jika sahabatku terdiam dan
hanya memberikan senyum simpul dibibirnya atau bahkan hanya tertunduk karena
bersedih.
Hal
itu yang membuat aku sangat gelisah sekaligus ketakutan karena tak ada teman
yang ingin berteman dengan ku kecuali revan. Pupus sudah harapan ku yang pernah
dahulu yang ingin selalu bersama-sama selamanya dengan sahabatku. Hari-hari
yang pernah aku lewati bersama revan merupakan hari yang paling terindah dalam
hidup ku. Dalam kesedihan ku, karena aku di tinggal sahabatku, teman-teman ku
yang tadinya memusuhi ku sekarang menjadi teman ku. Mereka menyadari bahwa
tidak seharusnya mereka memusuhi ku. Aku sangat senang karena tak ada lagi
teman yang memusuhi ku, dan aku sangat senang karena impianku ingin mempunyai
teman yang banyak telah tercapai. Merekapun selalu membuat aku bahagia.akupun
tak akn pernah melupakan hal yang terindah dalam hidupku bisa berteman dengan
sahabat yang terbaik seperti revan.
Sekarang aku
seperti orang yang paling bahagia, dan akupun mulai menata hidupku yang pernah
rapuh karena kehilangan seorang sahabat. Aku cinta membaca buku. Karena darinya, aku bisa
banyak belajar. Aku bisa memetik pengalaman. Aku bisa mencontoh. Aku pun bisa
menonton lewat membaca buku. Melalui buku, aku bisa berimajinasi, karena segala
yang kubaca begitu nyata. Engkau sendiri juga membuktikannya, kan? Dengan
membaca, engkau tidak perlu belajar. Engkau selalu suka membaca buku-buku
“berat” tentang filsafat. Cukup dengan membaca, engkau bisa melampaui siapa
saja. Einstein pun belajar dari membaca buku. Bukankah agama kita sangat
menganjurkan untuk membaca? Iqra’ (Bacalah!) Karena, pada dasarnya, kunci
segala pengetahuan adalah dengan membaca.
Membaca sebuah buku selalu memberikan cara berpikir
baru bagiku, juga bagimu. Segala hal tentang kehidupan bisa dipelajari melalui
buku. Maka dari itu, jangan pernah berhenti membaca, sobat. Aku sering memetik
pelajaran dari setiap buku yang kubaca. Setiap kisah yang diceritakan mampu
memotivasiku untuk terus membaca. Dan setiap kisah yang dituliskan memberiku
inspirasi untuk berbuat lebih baik. Mungkin, inilah yang disebut ‘tulisan
bernyawa’. Tulisan yang mampu menginspirasi dan memotivasi banyak orang untuk
meraih mimpi-mimpinya. Sobat, aku berharap suatu hari aku pun bisa menghasilkan
karya serupa.
Olehnya itu, aku kemudian tidak takut untuk bermimpi. Segala kisah yang kubaca telah mengajarkan hal itu. Banyaklah belajar dari membaca.Akhirnya, ingin kuperkenalkan pada engkau wahai sahabatku. Buku-buku itu telah menjadi inspirator sekaligus motivator dalam kehidupanku. Jadilah temannya. Lalu, temukan pula inspirasimu dengan membaca. Maka engkau akan tahu siapa motivatormu. Dengan surat dan buku yang kutuliskan bersamamu ku tulis lagi, didalam tulisan itu berisi sebuah pengalaman kita sobat dengan buku. Hanya ini yang dapat ku berikan semoga kau senang sobat membacanya. Aku yakin kita dapat di kenal oleh duia karena tulisan kita. Ahmad.
Olehnya itu, aku kemudian tidak takut untuk bermimpi. Segala kisah yang kubaca telah mengajarkan hal itu. Banyaklah belajar dari membaca.Akhirnya, ingin kuperkenalkan pada engkau wahai sahabatku. Buku-buku itu telah menjadi inspirator sekaligus motivator dalam kehidupanku. Jadilah temannya. Lalu, temukan pula inspirasimu dengan membaca. Maka engkau akan tahu siapa motivatormu. Dengan surat dan buku yang kutuliskan bersamamu ku tulis lagi, didalam tulisan itu berisi sebuah pengalaman kita sobat dengan buku. Hanya ini yang dapat ku berikan semoga kau senang sobat membacanya. Aku yakin kita dapat di kenal oleh duia karena tulisan kita. Ahmad.

